USG BIKIN SENGSARA
Saya mengenal kata USG (ultrasonografi) sejak awal 1990-an. Namun pertama kali memanfaatkan teknologi ini baru pada 2003. Saat hamil anak pertama, sejak usia kehamilan lima bulan saya dan suami sebenarnya ingin melakukan USG untuk mengetahui jenis kelaminnya. Tetapi dokter menyarankan sebaiknya USG dilakukan saat usia kehamilan delapan bulan. Kami sudah tidak sabar. Maklum, menjelang tiga tahun pernikahan kami saya baru hamil.
Usia kehamilan tujuh bulan saya mengalami kontraksi karena terlalu semangat jalan pagi. Dokter menyarankan untuk USG ke laboratorium klinik yang alatnya lebih canggih dan layar monitornya lebih lebar. Sebenarnya setiap periksa juga di USG, namun monitornya kecil. Kami juga ingin mengetahui jenis kelmain sang janin. Sayang, jenis kelmainnya tidak terlihat. Tidak menyerah, usia kehamilan delapan bulan saya minta USG lagi. Namun hasilnya sama: tidak terlihat jenis kelaminnya. Akhirnya, untuk perlengkapan bayi kami memilih warna kuning dan hijau. Sebelumnya kami membayangka akan membeli perlengkapan bayi warna pink atau biru. Ternyata anak pertama kami perempuan.
Sejujurnya, saya kurang semangat melakukan USG pada kehamilan kedua. Khawatir tidak terlihat lagi, kan sayang uangnya. Namun karena alasan ‘keadilan’, biar nanti sama-sama punya foto saat masih dalam kandungan, akhirnya kami minta di USG. Saat kehamilan anak kedua, kami juga melakukan USG dua kali. Hasilnya sama: tidak tampak jenis kelaminnya. Kami juga memilih warna hijau kuning untuk perlengkapan bayi. Setelah lahir, anak kedua kami laki-laki.
Kehamilan anak ketiga saya tetap melakukan USG dengan alasan sama: demi keadilan. Namun hasil USG kali ini sungguh mengagetkan. Menurut dokter radiologi, anak ketiga kami kembar dua. Yang menyedihkan, dari beberapa foto USG disebutkan bahwa ada dua kepala dan satu badan. Betapa kaget dan sedihnya saya waktu itu. Hasil USG saya bawa ke dokter kandungan, beliau juga tampak kaget dan berusaha menenangkan saya. Beliau menyarankan untuk USG dua minggu lagi. Saat saudara-saudara menanyakan hasil USG saya cuma bilang anaknya kemungkinan kembar. Mereka menyambutnya dengan suka cita dan surprise! Saya tidak bilang tentang dua kepala dan satu badan itu. Biar saya dan suami saja yang mengetahuinya. Perasaan galau, sedih, cemas campur aduk jadi satu. Tiada hal lain yang bisa kami lakukan selain berdoa dan berdoa. Pada saat seperti ini, hal paling menentramkan adalah berakrab-akrab dengan Sang Khalik. Memohon dengan sepenuh hati, sujud dengan sedalam-dalamnya sujud. Membaca Al-Qur’an di setiap kesempatan. Saya juga menyiapkan mental bila harus memiliki anak cacat. Saya mengaduk-aduk koleksi majalah langganan yang pernah menyajikan bahasan utama dengan tema bila anak lahir tidak sempurna. Sejak mengetahui hasil USG itu, saya sulit tidur dan tidak nafsu makan hingga berat badan turun satu kilogram. Normalnya, usia kehamilan delapan bulan berat badan terus bertambah.
Setelah dua minggu hidup dengan kecemasan dan ketakutan luar biasa, tibalah saatnya untuk USG lagi. Hasilnya? Janin tunggal, semuanya normal. Namun jenis kelamin tidak tampak. Kelegaan dan puji syukur yang tiada terkira. Akhirnya anak ketiga lahir sempurna dengan jenis kelamin perempuan.
Denpasar, 21 Maret 2008
Jumat, 24 Desember 2010
Ritual Menjelang Tidur
RITUAL MENJELANG TIDUR
Menjelang anak-anak tidur di malam hari adalah saat yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi saya. Sebagai ibu dari tiga balita cukup repot menidurkan mereka bertiga secara bersamaan. Saya harus mengeloni mereka sendirian karena suami sering dinas keluar kota. Bahkan pernah tinggal berjauhan selama hampir satu tahun. Hanya seminggu sekali anak-anak bertemu bapaknya.
Di kamar tidur, anak-anak biasa menceritakan apa saja yang dialaminya sepanjang hari itu. Si sulung yang sekolah di TK A menceritakan kegiatannya di sekolah, juga kalau ada teman yang mengganggunya. Padahal sepulang sekolah saat ditanya tentang kegiatannya di sekolah, dia bilang tidak tahu. Anak nomer dua (dua tahun) senang bercerita tentang binatang yang dia lihat di sekitar rumah, di jalan saat ikut menjemput sang kakak atau di acara TV. Kami tinggal di pinggiran kota Denpasar, jadi banyak anjing dan babi berkeliaran di jalan, juga sapi yang dibiarkan lepas di lapangan dekat rumah. Bahkan sering muncul biawak yang merambat di atas pagar pembatas di samping rumah. Maklum, rumah kami berbatasan dengan tanah kosong yang rimbun.
Setelah puas bercerita, mereka ganti meminta saya untuk mendongeng. Sambil mendongeng, kedua tangan saya sibuk memenuhi permintaan si sulung dan si tengah, anak nomer dua. Si sulung biasanya minta punggungnya di cubit-cubit, jari-jari tangan dan kakinya ditarik-tarik. Si tengah seneng kalau daun telinganya ditarik-tarik, juga keduapuluh jarinya diputar-putar dan ditarik-tarik. Tidak hanya itu, mereka juga kadang minta ‘diupilkan’ hidungnya, juga dibersihkan telinganya. Padahal, tiap hari minggu telinganya sudah rutin dibersihkan. Soal upil (maaf) ini, sering memicu keributan di antara keduanya, bila salah satu ada yang upilnya lebih besar. Yang upilnya besar bangga, sementara yang lain iri. Duh! Perlu energi ekstra untuk jadi mediator agar keduanya kembali tenang. Bila sedang ribut, sering saya berharap ada lolongan anjing yang keras biar anak-anak segera diam dengan sendirinya. Di Denpasar gonggongan anjing terdengar setiap saat, dan pada malam hari gonggongannya terdengar keras. Bila anak-anak sudah minta ‘diterapi’ ini itu, berarti mereka sudah mengantuk dan hampir terlelap. Sebagai penutup ‘ritual’ menjelang tidur adalah membelai rambutnya sambil membaca doa sebelum tidur juga beberapa surat Al-Qur’an yang pendek
Saat anak-anak menjelang tidur seorang ibu mungkin menjadi orang paling sibuk. Saya sering melakukan empat kegiatan sekaligus: membelai si sulung, memijit si tengah, menyusui si bungsu dan mendongeng. Bagaimana bisa? Saya berbaring miring ke kanan untuk menyusui, tangan kanan membelai atau memijit si sulung yang tidur di samping kanan si bungsu. Tangan kiri memijit atau menarik-narik jari kaki si tengah yang kakinya ditaruh di pinggang saya. Si tengah tidur di belakang saya. Si tengah mau mengerti bila adiknya minum, jadi dia ‘nrimo’ kalau harus dibelakangi. Bila si bungsu tidak sedang minum ASI, saya tidur telentang dengan merentangkan kedua tangan untuk merengkuh mereka. Bagai burung yang membentangkan sayapnya. Dari sini saya baru menyadari kenapa ada yayasan dengan nama “Sayap Ibu.” Seorang ibu dengan kedua tangannya dan segenap jiwa raganya akan melindungi anak-anaknya bagai sayap burung yang membentang. Ini penafsiran saya, para pendiri yayasan tentu punya alasan yang lebih tepat mengapa di sebut sayap ibu.
Saat menjelang tidur sering menuntut saya untuk berperang melawan emosi, dan harus kuat untuk menaklukkan sang emosi. Sebab momen menjelang tidur pun masih sering menjadi ajang keributan antara si sulung dan si tengah. Misalnya si sulung minta dongeng tentang gajah, si tengah minta dongeng kucing. Diajak bergantian tidak mau, masing-masing minta didongengi kisah favoritnya lebih dulu. Bila sudah begini, harus ada dongeng alternatif, biar masing-masing tidak ngotot dengan keinginannya. Selain dongeng, posisi tidur juga menjadi sumber keriuhan, masing-masing minta tidur di sebelah si bungsu. Biar tidak jadi korban dan demi alasan keadilan, akhirnya si bungsu saya pangku.
Setelah ritual menjelang tidur terlewati dan mereka semua tidur, tiada hal lain yang bisa dilakukan selain mengucap alhamdulillah. Kelegaan luar biasa setelah melakukan persuasi sambil menahan emosi untuk mengakomodasi kepentingan ketiga balita seorang diri. Sambil memandangi ketiganya, terucap doa untuk kebaikannya di dunia dan akhirat.
Kamar Tidur Depan, Denpasar
31 Maret 2008
Menjelang anak-anak tidur di malam hari adalah saat yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi saya. Sebagai ibu dari tiga balita cukup repot menidurkan mereka bertiga secara bersamaan. Saya harus mengeloni mereka sendirian karena suami sering dinas keluar kota. Bahkan pernah tinggal berjauhan selama hampir satu tahun. Hanya seminggu sekali anak-anak bertemu bapaknya.
Di kamar tidur, anak-anak biasa menceritakan apa saja yang dialaminya sepanjang hari itu. Si sulung yang sekolah di TK A menceritakan kegiatannya di sekolah, juga kalau ada teman yang mengganggunya. Padahal sepulang sekolah saat ditanya tentang kegiatannya di sekolah, dia bilang tidak tahu. Anak nomer dua (dua tahun) senang bercerita tentang binatang yang dia lihat di sekitar rumah, di jalan saat ikut menjemput sang kakak atau di acara TV. Kami tinggal di pinggiran kota Denpasar, jadi banyak anjing dan babi berkeliaran di jalan, juga sapi yang dibiarkan lepas di lapangan dekat rumah. Bahkan sering muncul biawak yang merambat di atas pagar pembatas di samping rumah. Maklum, rumah kami berbatasan dengan tanah kosong yang rimbun.
Setelah puas bercerita, mereka ganti meminta saya untuk mendongeng. Sambil mendongeng, kedua tangan saya sibuk memenuhi permintaan si sulung dan si tengah, anak nomer dua. Si sulung biasanya minta punggungnya di cubit-cubit, jari-jari tangan dan kakinya ditarik-tarik. Si tengah seneng kalau daun telinganya ditarik-tarik, juga keduapuluh jarinya diputar-putar dan ditarik-tarik. Tidak hanya itu, mereka juga kadang minta ‘diupilkan’ hidungnya, juga dibersihkan telinganya. Padahal, tiap hari minggu telinganya sudah rutin dibersihkan. Soal upil (maaf) ini, sering memicu keributan di antara keduanya, bila salah satu ada yang upilnya lebih besar. Yang upilnya besar bangga, sementara yang lain iri. Duh! Perlu energi ekstra untuk jadi mediator agar keduanya kembali tenang. Bila sedang ribut, sering saya berharap ada lolongan anjing yang keras biar anak-anak segera diam dengan sendirinya. Di Denpasar gonggongan anjing terdengar setiap saat, dan pada malam hari gonggongannya terdengar keras. Bila anak-anak sudah minta ‘diterapi’ ini itu, berarti mereka sudah mengantuk dan hampir terlelap. Sebagai penutup ‘ritual’ menjelang tidur adalah membelai rambutnya sambil membaca doa sebelum tidur juga beberapa surat Al-Qur’an yang pendek
Saat anak-anak menjelang tidur seorang ibu mungkin menjadi orang paling sibuk. Saya sering melakukan empat kegiatan sekaligus: membelai si sulung, memijit si tengah, menyusui si bungsu dan mendongeng. Bagaimana bisa? Saya berbaring miring ke kanan untuk menyusui, tangan kanan membelai atau memijit si sulung yang tidur di samping kanan si bungsu. Tangan kiri memijit atau menarik-narik jari kaki si tengah yang kakinya ditaruh di pinggang saya. Si tengah tidur di belakang saya. Si tengah mau mengerti bila adiknya minum, jadi dia ‘nrimo’ kalau harus dibelakangi. Bila si bungsu tidak sedang minum ASI, saya tidur telentang dengan merentangkan kedua tangan untuk merengkuh mereka. Bagai burung yang membentangkan sayapnya. Dari sini saya baru menyadari kenapa ada yayasan dengan nama “Sayap Ibu.” Seorang ibu dengan kedua tangannya dan segenap jiwa raganya akan melindungi anak-anaknya bagai sayap burung yang membentang. Ini penafsiran saya, para pendiri yayasan tentu punya alasan yang lebih tepat mengapa di sebut sayap ibu.
Saat menjelang tidur sering menuntut saya untuk berperang melawan emosi, dan harus kuat untuk menaklukkan sang emosi. Sebab momen menjelang tidur pun masih sering menjadi ajang keributan antara si sulung dan si tengah. Misalnya si sulung minta dongeng tentang gajah, si tengah minta dongeng kucing. Diajak bergantian tidak mau, masing-masing minta didongengi kisah favoritnya lebih dulu. Bila sudah begini, harus ada dongeng alternatif, biar masing-masing tidak ngotot dengan keinginannya. Selain dongeng, posisi tidur juga menjadi sumber keriuhan, masing-masing minta tidur di sebelah si bungsu. Biar tidak jadi korban dan demi alasan keadilan, akhirnya si bungsu saya pangku.
Setelah ritual menjelang tidur terlewati dan mereka semua tidur, tiada hal lain yang bisa dilakukan selain mengucap alhamdulillah. Kelegaan luar biasa setelah melakukan persuasi sambil menahan emosi untuk mengakomodasi kepentingan ketiga balita seorang diri. Sambil memandangi ketiganya, terucap doa untuk kebaikannya di dunia dan akhirat.
Kamar Tidur Depan, Denpasar
31 Maret 2008
kurir ASI
KURIR ASI
Kampanye pemberian Air Susus Ibu (ASI) bagi si buah hati makin gencar. Ini berarti makin banyak kalangan yang peduli dengan manfaat ASI bagi tumbuh kembang anak. Sejak anak pertama saya memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun. Dalam kondisi hamil pun saya tetap memberikan ASI, jarak kelahiran putra putri kami dua tahun dua bulan. Saat hamil tujuh bulan saya masih memberi ASI untuk sang kakak yang tepat berusia dua tahun. Saya istirahat menyusui selama dua bulan, kemudian sang adik lahir dan aktif memberi ASI lagi. Demikian terus hingga lahir anak ketiga.
Saat anak ketiga berusia tiga bulan, si sulung (4 tahun 8 bulan) sakit tipus dan harus opname. Si sulung ini tidak mau ditunggui siapa pun selain ibunya. Tidak mungkin mengajak si bungsu di rumah sakit (RS) demi kelancaran pemberian ASI, takut tertular penyakit. Akhirnya anak kedua dan ketiga dititipkan di rumah kakak saya di sertai si mbak yang biasa membantu pekerjaan di rumah. Suami kebagian mondar-mandir antara rumah sakit, rumah kakak dan rumah kami sendiri. Suami juga yang mengurus anak nomer dua, 2,5 tahun (si tengah). Selama saya di RS, si tengah ini tidak mau sama siapa pun selain bapaknya. Mulai mandi, pakai baju, makan , main hingga ngeloni saat mau tidur. Suami baru bisa ke rumah sakit bila si tengah tidur. Betapa repotnya kami saat itu, memiliki tiga balita dan ada yang harus dirawat di RS.
Di rumah sakit kegiatan saya hanya mengurus si sulung dan memompa ASI. Bahan bacaan yang saya bawa tidak tersentuh. Ini pertama kalinya dia masuk RS, wajar setiap ada yang datang dia ketakuan, jadi saya harus selalu di dekatnya. Saat dia tidur saya baru bisa leluasa memompa ASI. Kalau dia sedang melek dan tidak ada yang datang, dia bisa ngerti kalau saya memompa ASI untuk adik. Urusan memompa ASI ini sepertinya dikejar deadline. Apalagi bila sudah di SMS: ASI mau habis. Selama di rumah sakit saya tidak leluasa memompa ASI. Maklum, di rumah sakit tak terhitung berapa kali orang yang mengunjungi kamar kami. Mulai dokter, perawat, terapis, petugas kebersihan, penyaji makanan, juga para pembezuk. Saat mereka otomatis saya harus menghentikan kegiatan memompa ASI. Saat pengambil ASI datang, sering ASI yang terkumpul baru 60 cc. Ya ASI sejumlah itulah yang harus dibawa pulang. Akibatnya, tak lama kemudian harus ada yang ngambil ASI lagi.
Karena suami harus sama si tengah, maka yang kebagian mengambil ASI adalah keponakan saya yang laki-laki, kelas satu SMU. Pagi, siang, sore juga malam hari dia ‘berdinas’ untuk mengantar botol kosong dan mengambil ASI. Saking seringnya ke RS, pada hari kedua putri kami opname, petugas parkir tidak lagi menanyakan STNK. Saya salut dengan kesungguhannya menjalankan tugasnya. Hujan deras pun dia tembus demi sebotol ASI. Ya, sebotol ASI adalah penyambung kehidupan bagi si bungsu. Belakangan saya baru tahu, kalau semangat empat limanya itu tidak lepas dari fulus. Rupanya, suami saya sudah memberikan ‘upeti’ untuk keponakan saya ini sebagai imbalan atas jasanya.
Saat mengambil ASI, dia saya goda. Tugasnya menjadi pengantar botol dan pengambil ASI bisa ditulis di daftar riwayat hidupnya kelak, yakni: kurir ASI. Keponakan saya yang ABG (anak baru gede) ini hanya mesam-mesem menanggapi candaan saya. Kurir ASI, profesi langka yang mungkin belum pernah ada secara komersial. Melihat dinamika kehidupan kota besar semacam Jakarta dan seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya ASI, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang menggeluti profesi sebagai kurir ASI. Teras rumah, Kamis, 27 Maret 2008
Kampanye pemberian Air Susus Ibu (ASI) bagi si buah hati makin gencar. Ini berarti makin banyak kalangan yang peduli dengan manfaat ASI bagi tumbuh kembang anak. Sejak anak pertama saya memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun. Dalam kondisi hamil pun saya tetap memberikan ASI, jarak kelahiran putra putri kami dua tahun dua bulan. Saat hamil tujuh bulan saya masih memberi ASI untuk sang kakak yang tepat berusia dua tahun. Saya istirahat menyusui selama dua bulan, kemudian sang adik lahir dan aktif memberi ASI lagi. Demikian terus hingga lahir anak ketiga.
Saat anak ketiga berusia tiga bulan, si sulung (4 tahun 8 bulan) sakit tipus dan harus opname. Si sulung ini tidak mau ditunggui siapa pun selain ibunya. Tidak mungkin mengajak si bungsu di rumah sakit (RS) demi kelancaran pemberian ASI, takut tertular penyakit. Akhirnya anak kedua dan ketiga dititipkan di rumah kakak saya di sertai si mbak yang biasa membantu pekerjaan di rumah. Suami kebagian mondar-mandir antara rumah sakit, rumah kakak dan rumah kami sendiri. Suami juga yang mengurus anak nomer dua, 2,5 tahun (si tengah). Selama saya di RS, si tengah ini tidak mau sama siapa pun selain bapaknya. Mulai mandi, pakai baju, makan , main hingga ngeloni saat mau tidur. Suami baru bisa ke rumah sakit bila si tengah tidur. Betapa repotnya kami saat itu, memiliki tiga balita dan ada yang harus dirawat di RS.
Di rumah sakit kegiatan saya hanya mengurus si sulung dan memompa ASI. Bahan bacaan yang saya bawa tidak tersentuh. Ini pertama kalinya dia masuk RS, wajar setiap ada yang datang dia ketakuan, jadi saya harus selalu di dekatnya. Saat dia tidur saya baru bisa leluasa memompa ASI. Kalau dia sedang melek dan tidak ada yang datang, dia bisa ngerti kalau saya memompa ASI untuk adik. Urusan memompa ASI ini sepertinya dikejar deadline. Apalagi bila sudah di SMS: ASI mau habis. Selama di rumah sakit saya tidak leluasa memompa ASI. Maklum, di rumah sakit tak terhitung berapa kali orang yang mengunjungi kamar kami. Mulai dokter, perawat, terapis, petugas kebersihan, penyaji makanan, juga para pembezuk. Saat mereka otomatis saya harus menghentikan kegiatan memompa ASI. Saat pengambil ASI datang, sering ASI yang terkumpul baru 60 cc. Ya ASI sejumlah itulah yang harus dibawa pulang. Akibatnya, tak lama kemudian harus ada yang ngambil ASI lagi.
Karena suami harus sama si tengah, maka yang kebagian mengambil ASI adalah keponakan saya yang laki-laki, kelas satu SMU. Pagi, siang, sore juga malam hari dia ‘berdinas’ untuk mengantar botol kosong dan mengambil ASI. Saking seringnya ke RS, pada hari kedua putri kami opname, petugas parkir tidak lagi menanyakan STNK. Saya salut dengan kesungguhannya menjalankan tugasnya. Hujan deras pun dia tembus demi sebotol ASI. Ya, sebotol ASI adalah penyambung kehidupan bagi si bungsu. Belakangan saya baru tahu, kalau semangat empat limanya itu tidak lepas dari fulus. Rupanya, suami saya sudah memberikan ‘upeti’ untuk keponakan saya ini sebagai imbalan atas jasanya.
Saat mengambil ASI, dia saya goda. Tugasnya menjadi pengantar botol dan pengambil ASI bisa ditulis di daftar riwayat hidupnya kelak, yakni: kurir ASI. Keponakan saya yang ABG (anak baru gede) ini hanya mesam-mesem menanggapi candaan saya. Kurir ASI, profesi langka yang mungkin belum pernah ada secara komersial. Melihat dinamika kehidupan kota besar semacam Jakarta dan seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya ASI, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang menggeluti profesi sebagai kurir ASI. Teras rumah, Kamis, 27 Maret 2008
Kamis, 16 September 2010
ROMANTIKA BER- PRT
ROMANTIKA PUNYA PRT
Sambil menyusui anak ketiga, iseng-iseng saya menghitung pembantu rumah tangga (PRT) atau mbak-mbak yang pernah bekerja di keluarga kami. Ternyata ada sebelas orang dalam rentang waktu empat tahun. Bermacam karakter, kebiasaan dan perilaku mereka menjadi romantika dan tantangan tersendiri bagi kami. Ada yang super sensitif, super cuek (ndableg, Jawa), pemalas, pintar cari muka, lihai bersilat lidah, tidak jujur dan jorok. Bahkan ada yang agak error alias menclek kata orang Surabaya.
Kami bilang agak error karena si mbak yang usianya hampir 30 tahun ini (sebut saja Wati) ndablegnya bukan main, semau gue, suka ngomong sendiri, doyan tidur dan joroknya masya Alloh. Satu lagi: telmi (telat mikir) berat! Kamar tidurnya semrawut, baju kotor dan baju bersih campur jadi satu. Baju kotornya juga sering berceceran di kamar mandi. Habis makan piringnya juga tergeletak di sembarang tempat—mulai teras hingga kebun di samping rumah. Karena sudah lelah ngomongi saya langsung memungutnya dan membawanya ke dapur. Ada lagi yang bikin ‘gemes.’ Seperti biasa, sehabis sholat isya saya ajak ketiga balita saya masuk kamar. Tanpa ketok pintu (padahal pintu tertutup rapat), Wati langsung masuk kamar, ikut nimbrung dan pengen ngadem katanya. Di kamar ada AC, sementara di ruang tengah hanya ada kipas angin. Wati jarang mau tidur di kamarnya, sering tidur di depan televisi di ruang tengah. Pertama kali dia masuk kamar tidur begitu saja, saya kaget berat dan cuma bisa diam. Besoknya di ulang lagi. Akhirnya saya kasih tahu kalau itu tidak sopan, anak-anak juga terganggu kalau mau tidur ada orang lain. Saat mau tidur adalah prime time bagi saya untuk menjalin kedekatan dan menanamkan budi pekerti melalui dongeng. Pada momen ini juga saya mengajari doa sehari-hari dan menghafal surat-surat Al-Qur’an yang pendek. Wati kerjanya lama banget sebab diselingi melamun, ngomong sendiri dan sambil mendengarkan radio. Kalau menyapu radionya sering ditenteng. Pernah sebelum jam 6 pagi dia menyapu di halaman depan yang tidak luas. Sampai jam 7 dia tidak tampak. Setelah dicari-cari, ternyata dia nongkrong di pos kamling dekat rumah. Duh! Masih banyak kejadian ‘menggemaskan’ yang dilakukan Wati.
Ada juga mbak yang super sensitif. Kalau pekerjaanya kurang beres dan saya kasih tahu, si mbak langsung cemberut berhari-hari, diajak ngomong juga cuek. Ada juga yang ‘unik’, cuma bertahan sehari semalam karena keberatan kalau disuruh sholat. Padahal dia dari Kota Santri, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur. Malah ada mbak yang kalau dimintai tolong sepertinya tidak mau. Si mbak ini melengos bila disuruh melakukan suatu pekerjaan, misalnya menguras bak mandi. Jangankan menjawab ‘ya’, melihat saya pun tidak. Kalau sudah begini, tiada hal yang indah selain mengingat bahwa Alloh bersama orang-orang yang sabar.
Dalam hal ini saya senasib dengan tokoh cerpen yang berjudul Pilah Pilih yang dimuat Ummi beberapa tahun lalu. Sama-sama pusing menghadapi PRT yang tidak sesuai harapan. Alangkah sulit mencari PRT yang cocok. Sepupu saya berseloroh: sekarang mencari PRT yang cocok lebih sulit daripada mencari jodoh. Nah lho!
Wininatin Khamimah
kamar depan, SURABAYA
Sambil menyusui anak ketiga, iseng-iseng saya menghitung pembantu rumah tangga (PRT) atau mbak-mbak yang pernah bekerja di keluarga kami. Ternyata ada sebelas orang dalam rentang waktu empat tahun. Bermacam karakter, kebiasaan dan perilaku mereka menjadi romantika dan tantangan tersendiri bagi kami. Ada yang super sensitif, super cuek (ndableg, Jawa), pemalas, pintar cari muka, lihai bersilat lidah, tidak jujur dan jorok. Bahkan ada yang agak error alias menclek kata orang Surabaya.
Kami bilang agak error karena si mbak yang usianya hampir 30 tahun ini (sebut saja Wati) ndablegnya bukan main, semau gue, suka ngomong sendiri, doyan tidur dan joroknya masya Alloh. Satu lagi: telmi (telat mikir) berat! Kamar tidurnya semrawut, baju kotor dan baju bersih campur jadi satu. Baju kotornya juga sering berceceran di kamar mandi. Habis makan piringnya juga tergeletak di sembarang tempat—mulai teras hingga kebun di samping rumah. Karena sudah lelah ngomongi saya langsung memungutnya dan membawanya ke dapur. Ada lagi yang bikin ‘gemes.’ Seperti biasa, sehabis sholat isya saya ajak ketiga balita saya masuk kamar. Tanpa ketok pintu (padahal pintu tertutup rapat), Wati langsung masuk kamar, ikut nimbrung dan pengen ngadem katanya. Di kamar ada AC, sementara di ruang tengah hanya ada kipas angin. Wati jarang mau tidur di kamarnya, sering tidur di depan televisi di ruang tengah. Pertama kali dia masuk kamar tidur begitu saja, saya kaget berat dan cuma bisa diam. Besoknya di ulang lagi. Akhirnya saya kasih tahu kalau itu tidak sopan, anak-anak juga terganggu kalau mau tidur ada orang lain. Saat mau tidur adalah prime time bagi saya untuk menjalin kedekatan dan menanamkan budi pekerti melalui dongeng. Pada momen ini juga saya mengajari doa sehari-hari dan menghafal surat-surat Al-Qur’an yang pendek. Wati kerjanya lama banget sebab diselingi melamun, ngomong sendiri dan sambil mendengarkan radio. Kalau menyapu radionya sering ditenteng. Pernah sebelum jam 6 pagi dia menyapu di halaman depan yang tidak luas. Sampai jam 7 dia tidak tampak. Setelah dicari-cari, ternyata dia nongkrong di pos kamling dekat rumah. Duh! Masih banyak kejadian ‘menggemaskan’ yang dilakukan Wati.
Ada juga mbak yang super sensitif. Kalau pekerjaanya kurang beres dan saya kasih tahu, si mbak langsung cemberut berhari-hari, diajak ngomong juga cuek. Ada juga yang ‘unik’, cuma bertahan sehari semalam karena keberatan kalau disuruh sholat. Padahal dia dari Kota Santri, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur. Malah ada mbak yang kalau dimintai tolong sepertinya tidak mau. Si mbak ini melengos bila disuruh melakukan suatu pekerjaan, misalnya menguras bak mandi. Jangankan menjawab ‘ya’, melihat saya pun tidak. Kalau sudah begini, tiada hal yang indah selain mengingat bahwa Alloh bersama orang-orang yang sabar.
Dalam hal ini saya senasib dengan tokoh cerpen yang berjudul Pilah Pilih yang dimuat Ummi beberapa tahun lalu. Sama-sama pusing menghadapi PRT yang tidak sesuai harapan. Alangkah sulit mencari PRT yang cocok. Sepupu saya berseloroh: sekarang mencari PRT yang cocok lebih sulit daripada mencari jodoh. Nah lho!
Wininatin Khamimah
kamar depan, SURABAYA
serba canggung
SERBA CANGGUNG
Tokoh di cerbung Cincin benar-benar seperti gambaran diri saya, it’s so me (bahasa gaulnya gue banget gitu lho). Kegundahannya adalah kegundahan saya, kecanggungannya juga kecanggungan saya. Saya seperti tersindir, lalu merasa nelangsa dan bertekad saya harus berbuat sesuatu.
Sejak berhenti bekerja karena mengikuti tugas suami ke daerah, praktis saya jadi ibu rumah tangga, yang hampir 24 jam di rumah. Minggu-minggu pertama saya menikmati betul jadi orang ‘rumahan.’ Segala urusan rumah tangga saya kerjakan sendiri, mulai menguras bak mandi hingga bayar listrik. Satu bulan berlalu sudah. Bulan berikutnya kejenuhan, rasa minder, nelangsa dan menyesal karena ilmu tidak dipraktekkan mulai melanda. Rasa minder mungkin juga rasa iri saat ada teman kuliah dulu muncul di TV atau koran., juga saat melihat orang-orang yang sukses di bidangnya yang seusia dengan saya, bahkan ada yang jauh lebih muda dari saya. Melihat itu semua, benar-benar I’m no one, I’m nothing.
Belum lagi dari segi finansial, biasanya punya gaji sendiri, tetapi sekarang sepenuhnya tergantung pada suami. Karena tidak punya penghasilan sendiri, mau menyisihkan uang belanja untuk membeli buku saya merasa sungkan. Dari situ saya melamar menjadi dosen di beberapa universitas, tetapi tak satu pun yang merespon. Maklum meski ada pengalaman mengajar di sebuah STIE di Jakarta, ijazah saya cuma S1. Pada saat itu mulai berlaku untuk menjadi dosen harus lulusan minimal S2. Untuk bisnis pun, bingung harus bisnis apa, pangsa pasarnya siapa, modalnya dari mana dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit dijawab. Semuanya serba canggung.
Di tengah kondisi yang melelahkan batin ini, untunglah ada stasiun TV lokal yang mau mengudara. Sejak bertahun-tahun lalu saya punya rancangan acara kuis di TV. Alhamdulilah, proposal acara kuis disetujui, beberapa bulan kemudian ditayangkan. Karena satu dan lain hal, kerja sama ini berakhir lebih awal. Duh! Profesi pengacara (pengangguran banyak acara) kembali saya jalani. Perasaan minder, bingung harus berbuat apa dan tak berdaya terus berlangsung hingga kelahiran anak ketiga. Hingga saat saya membacakan majalah anak-anak untuk si sulung, saya menemukan halaman yang memuat surat An Najm (78) ayat 39. Dalam ayat ini Alloh SWT berfirman: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” Ayat ini seperti membangunkan saya dari tidur panjang dan memaksa saya keluar dari comfort zone yang saya nikmati selama ini dengan dalih demi anak-anak. Mestinya saya bisa terus berkarya tanpa harus meninggalkan anak-anak. Yah, akar masalahnya karena saya kurang kemauan, kurang ulet dan kurang motivasi dalam mengejar mimpi-mimpi saya.
Alhamdulilah, dari satu ayat Al-Qur’an itu saya terpacu untuk terus menggali potensi diri, antara lain menulis, menerjemah dan mengedit buku. Oh Alloh, saya malu. Kenapa dari dulu tidak mau berakrab-akrab dengan firman-firman sucimu yang di dalamnya banyak mutiara-mutiara hikmah untuk kemaslahatan hamba-Mu. Akhirnya, pepatah Arab yang popular benar-benar saya rasakan: Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang mendapat. Sungguh!
Wininatin Khamimah
Kamar belakang, rumah surabaya
Tokoh di cerbung Cincin benar-benar seperti gambaran diri saya, it’s so me (bahasa gaulnya gue banget gitu lho). Kegundahannya adalah kegundahan saya, kecanggungannya juga kecanggungan saya. Saya seperti tersindir, lalu merasa nelangsa dan bertekad saya harus berbuat sesuatu.
Sejak berhenti bekerja karena mengikuti tugas suami ke daerah, praktis saya jadi ibu rumah tangga, yang hampir 24 jam di rumah. Minggu-minggu pertama saya menikmati betul jadi orang ‘rumahan.’ Segala urusan rumah tangga saya kerjakan sendiri, mulai menguras bak mandi hingga bayar listrik. Satu bulan berlalu sudah. Bulan berikutnya kejenuhan, rasa minder, nelangsa dan menyesal karena ilmu tidak dipraktekkan mulai melanda. Rasa minder mungkin juga rasa iri saat ada teman kuliah dulu muncul di TV atau koran., juga saat melihat orang-orang yang sukses di bidangnya yang seusia dengan saya, bahkan ada yang jauh lebih muda dari saya. Melihat itu semua, benar-benar I’m no one, I’m nothing.
Belum lagi dari segi finansial, biasanya punya gaji sendiri, tetapi sekarang sepenuhnya tergantung pada suami. Karena tidak punya penghasilan sendiri, mau menyisihkan uang belanja untuk membeli buku saya merasa sungkan. Dari situ saya melamar menjadi dosen di beberapa universitas, tetapi tak satu pun yang merespon. Maklum meski ada pengalaman mengajar di sebuah STIE di Jakarta, ijazah saya cuma S1. Pada saat itu mulai berlaku untuk menjadi dosen harus lulusan minimal S2. Untuk bisnis pun, bingung harus bisnis apa, pangsa pasarnya siapa, modalnya dari mana dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit dijawab. Semuanya serba canggung.
Di tengah kondisi yang melelahkan batin ini, untunglah ada stasiun TV lokal yang mau mengudara. Sejak bertahun-tahun lalu saya punya rancangan acara kuis di TV. Alhamdulilah, proposal acara kuis disetujui, beberapa bulan kemudian ditayangkan. Karena satu dan lain hal, kerja sama ini berakhir lebih awal. Duh! Profesi pengacara (pengangguran banyak acara) kembali saya jalani. Perasaan minder, bingung harus berbuat apa dan tak berdaya terus berlangsung hingga kelahiran anak ketiga. Hingga saat saya membacakan majalah anak-anak untuk si sulung, saya menemukan halaman yang memuat surat An Najm (78) ayat 39. Dalam ayat ini Alloh SWT berfirman: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” Ayat ini seperti membangunkan saya dari tidur panjang dan memaksa saya keluar dari comfort zone yang saya nikmati selama ini dengan dalih demi anak-anak. Mestinya saya bisa terus berkarya tanpa harus meninggalkan anak-anak. Yah, akar masalahnya karena saya kurang kemauan, kurang ulet dan kurang motivasi dalam mengejar mimpi-mimpi saya.
Alhamdulilah, dari satu ayat Al-Qur’an itu saya terpacu untuk terus menggali potensi diri, antara lain menulis, menerjemah dan mengedit buku. Oh Alloh, saya malu. Kenapa dari dulu tidak mau berakrab-akrab dengan firman-firman sucimu yang di dalamnya banyak mutiara-mutiara hikmah untuk kemaslahatan hamba-Mu. Akhirnya, pepatah Arab yang popular benar-benar saya rasakan: Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang mendapat. Sungguh!
Wininatin Khamimah
Kamar belakang, rumah surabaya
Sabtu, 21 Agustus 2010
Minggu, 20 Juni 2010
TIAP 1 MUHARRAM
Pada era awal 1990-an, saat syiar Islam belum semarak seperti sekarang, perayaan tahun baru Islam belum begitu terasa gaungnya. Bahkan kapan 1 Muharram datang pun banyak yang tidak tahu. Tahunya ada tanggal merah, dan setelah lihat kalender baru ngeh: oh, 1 Muharram.
Alhamdulillah seiring berkembangnya dakwah Islam dan kemajuan teknologi informasi, satu dasawarsa kemudian kita mulai terbiasa saling mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah kepada saudara, teman dan kolega. Sehari menjelang 1 Muharram biasanya sudah kebanjiran SMS menyambut tahun baru Islam ini. SMS-SMS ini bagai warning bagi saya untuk mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan satu tahun ini.
Pada malam 1 Muharram biasanya bermuhasabah atas ucapan, sikap, perbuatan selama setahun ini. Ibadah-ibadah yang masih jauh dari harapan sebagai seorang muslim yang mengharap ridha Alloh SWT. Air mata meleleh manakala ingat betapa banyak dan rumit persoalan-persoalan umat, juga beban derita yang ditanggung saudara-saudara sesama muslim di sekeliling kita, sementara saya belum mampu berbuat apa-apa. Sungguh malu, Alloh SWT memberi kesehatan fisik dan mental, tetapi kontribusi untuk orang-orang di sekitar kecil sekali. Kesibukan mengurus rumah tangga sering dijadikan alasan untuk lari dari permasalahan-permasalahan umat. Hanya penyesalan yang tersisa kenapa waktu satu tahun tidak dimanfaatkan secara optimal untuk berbuat yang terbaik. Waktu tidak bisa diputar kembali, waktu terus berlalu hingga fajar 1 Muharram datang kembali.
Pada 1 Muharram jiwa segar kembali bagai bunga layu yang disiram air. Bagai tanah kering yang diguyur hujan dan kemudian siap ditanami. Kejenuhan akan rutinitas sehari-hari seperti hilang tergantikan semangat menyambut harapan baru, kegiatan baru dan peluang-peluang baru. Pada 1 Muharram dengan semangat rencana-rencana selama satu tahun kedepan dibuat, jadual kegiatan sehari-hari disusun. Banyak kegiatan yang ditulis untuk dilaksanakan, mulai sholat tahajjud, berkebun, merawat diri secara intensif hingga proyek menulis buku. Wah! Ceklis kegiatan dan ‘ proyek’ ini sepertinya mudah dilakukan. Seakan-akan tinggal mengayun satu langkah, semua itu akan tercapai.
Namun dalam prakteknya sulit dilakukan. Makin lama kita meninggalkan 1 Muharram, semangat perbaikan yang membara dalam segala hal lambat laun meredup. Target-target yang ditetapkan tidak semua tercapai. Ibadah-ibadah sunah tidak sepenuhnya dijalani, beberapa proyek terbengkalai. Sering saya berdalih, namanya iman kan naik turun, wajar kalau ibadah kadang kenceng kadang kendor. Kondisi tubuh juga tidak selalu prima, kadang fit kadang loyo. Betapa sulit untuk istiqomah dalam kebaikan. Kekurangmampuan dalam manajemen diri ternyata jawabnya. Manajemen diri berarti juga manajemen waktu yang harus dikelola dengan cermat selama 24 jam. Manajemen diri ini bisa berjalan baik kalau kita mau disiplin. Disiplin bisa tegak bila kita tahu arah yang dituju. Dalam hal ini visi hidup harus jelas, agar dalam perjalanannya tidak melenceng tak tentu arah.
Perlu dicanangkan dalam diri kita, saat 1 Muharram datang adalah saat untuk tersenyum menikmati hasil-hasil yang sudah diraih selama satu tahun. Bukan penyesalan-penyesalan yang tiada guna.
Wininatin Khamimah
Alhamdulillah seiring berkembangnya dakwah Islam dan kemajuan teknologi informasi, satu dasawarsa kemudian kita mulai terbiasa saling mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah kepada saudara, teman dan kolega. Sehari menjelang 1 Muharram biasanya sudah kebanjiran SMS menyambut tahun baru Islam ini. SMS-SMS ini bagai warning bagi saya untuk mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan satu tahun ini.
Pada malam 1 Muharram biasanya bermuhasabah atas ucapan, sikap, perbuatan selama setahun ini. Ibadah-ibadah yang masih jauh dari harapan sebagai seorang muslim yang mengharap ridha Alloh SWT. Air mata meleleh manakala ingat betapa banyak dan rumit persoalan-persoalan umat, juga beban derita yang ditanggung saudara-saudara sesama muslim di sekeliling kita, sementara saya belum mampu berbuat apa-apa. Sungguh malu, Alloh SWT memberi kesehatan fisik dan mental, tetapi kontribusi untuk orang-orang di sekitar kecil sekali. Kesibukan mengurus rumah tangga sering dijadikan alasan untuk lari dari permasalahan-permasalahan umat. Hanya penyesalan yang tersisa kenapa waktu satu tahun tidak dimanfaatkan secara optimal untuk berbuat yang terbaik. Waktu tidak bisa diputar kembali, waktu terus berlalu hingga fajar 1 Muharram datang kembali.
Pada 1 Muharram jiwa segar kembali bagai bunga layu yang disiram air. Bagai tanah kering yang diguyur hujan dan kemudian siap ditanami. Kejenuhan akan rutinitas sehari-hari seperti hilang tergantikan semangat menyambut harapan baru, kegiatan baru dan peluang-peluang baru. Pada 1 Muharram dengan semangat rencana-rencana selama satu tahun kedepan dibuat, jadual kegiatan sehari-hari disusun. Banyak kegiatan yang ditulis untuk dilaksanakan, mulai sholat tahajjud, berkebun, merawat diri secara intensif hingga proyek menulis buku. Wah! Ceklis kegiatan dan ‘ proyek’ ini sepertinya mudah dilakukan. Seakan-akan tinggal mengayun satu langkah, semua itu akan tercapai.
Namun dalam prakteknya sulit dilakukan. Makin lama kita meninggalkan 1 Muharram, semangat perbaikan yang membara dalam segala hal lambat laun meredup. Target-target yang ditetapkan tidak semua tercapai. Ibadah-ibadah sunah tidak sepenuhnya dijalani, beberapa proyek terbengkalai. Sering saya berdalih, namanya iman kan naik turun, wajar kalau ibadah kadang kenceng kadang kendor. Kondisi tubuh juga tidak selalu prima, kadang fit kadang loyo. Betapa sulit untuk istiqomah dalam kebaikan. Kekurangmampuan dalam manajemen diri ternyata jawabnya. Manajemen diri berarti juga manajemen waktu yang harus dikelola dengan cermat selama 24 jam. Manajemen diri ini bisa berjalan baik kalau kita mau disiplin. Disiplin bisa tegak bila kita tahu arah yang dituju. Dalam hal ini visi hidup harus jelas, agar dalam perjalanannya tidak melenceng tak tentu arah.
Perlu dicanangkan dalam diri kita, saat 1 Muharram datang adalah saat untuk tersenyum menikmati hasil-hasil yang sudah diraih selama satu tahun. Bukan penyesalan-penyesalan yang tiada guna.
Wininatin Khamimah
Langganan:
Postingan (Atom)